Aceh Tamiang I Newsline.id – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMPN 2 Kejuruan Muda, Suprianto, S.Pd., Gr., memberikan klarifikasi atas dinamika internal yang beredar di tengah masyarakat. Terkait adanya polemik dilingkungan sekolah tersebut, yang dianggap publik semakin melebar.
Supri, sapaan akrab Plt Kepsek, kepada pewarta Newsline.id menegaskan bahwa kebijakan penataan lingkungan dan penerapan disiplin kerja di sekolah, semata-mata ia lakukan demi kemajuan lembaga, bukan atas keputusan pribadi sepihak.
Terkait adanya isu yang berkembang atas pengusiran seorang nenek (istri) dari almarhum mantan penjaga sekolah. Suprianto meluruskan bahwa pihak sekolah sejak awal merencanakan relokasi isteri almarhum tersebut ke area kavling rumah dinas. Langkah ia lakukan untuk penataan aset dan pemanfaatan ruang sekolah secara optimal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, terang Supri, pihak keluarga lebih memilih dan memutuskan secara mandiri untuk pindah ke Kampung Minuran dengan memboyong material bangunan bekas.
“Persoalan ini bermula dari agenda penataan lingkungan sekolah yang sudah direncanakan sejak kepemimpinan terdalam. Keluarga kemudian memilih sendiri untuk membawa orang tua mereka pindah. Jadi tidak ada tindakan pengusiran, nenek itu pindah dengan kemauannya sendiri,” ujar Suprianto, Jum’at, (21/08/26).
Selain penertiban aset, Suprianto juga membenarkan adanya penguatan disiplin, seperti kewajiban mengikuti upacara bendera hari Senin bagi seluruh guru dan tenaga kependidikan (tendik). Meski sempat memicu dinamika internal di grup percakapan sekolah, kebijakan ini dinilai krusial untuk membangun keteladanan di lembaga pendidikan.
Mengenai kelulusan pegawai menjadi Guru PPPK hingga isu dominasi hubungan kekeluargaan di kalangan staf, pihak sekolah menjelaskan bahwa seleksi PPPK sepenuhnya merupakan sistem nasional di luar kewenangan kepala sekolah.
Adanya ikatan kekeluargaan antar-staf juga tidak serta-merta menandakan praktik nepotisme tanpa adanya bukti pelanggaran aturan kepegawaian.
Namun begitu, Suprianto berharap seluruh pihak dapat mengedepankan dialog dan prinsip tabayyun dalam menyikapi dinamika yang ada.
Sikap terbuka dan komunikasi yang sehat sangat diperlukan agar pelayanan pendidikan bagi para siswa tetap berjalan optimal.
“Sekolah adalah ruang pendidikan. Setiap persoalan hendaknya diselesaikan dengan kepala dingin melalui mekanisme kelembagaan, agar tidak mencederai kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan,” pungkas Supri
Penulis : Suparmin
Editor : Ama Robby










