Oleh: Sadikin Arisko
Desur ni uyem bukan sekadar untaian kata dalam syair lagu atau percakapan orang tua di kampung. Ia lahir dari sejarah, ingatan, dan hubungan panjang masyarakat Gayo dengan alamnya sendiri. Di balik kalimat itu tersimpan kisah tentang tanah yang dahulu begitu kaya, teduh, dan memberi kehidupan.
Di dataran tinggi Gayo, ada beberapa tumbuhan yang sejak lama menjadi simbol kemakmuran dan identitas daerah. Tiga di antaranya paling sering disebut dalam syair maupun percakapan masyarakat: uyem, kupi, dan bako. Uyem berarti pinus, kupi berarti kopi, dan bako adalah tembakau. Ketiganya bukan sekadar tanaman, melainkan lambang kehidupan orang Gayo.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Desur ni uyem” berarti suara desir daun pinus ketika ditiup angin. Menurut cerita turun-temurun, suara itu dahulu terdengar nyaring sekaligus merdu. Seakan-akan pohon-pohon pinus sedang bersenandung, menceritakan betapa besarnya batang mereka, betapa rindangnya daun-daunnya, dan betapa kokohnya cabang-cabang yang menopang kehidupan di bawahnya.
Namun hari ini, suara itu perlahan seperti menghilang.
Pinus-pinus besar yang dulu diceritakan para orang tua kini seolah tinggal kenangan. Yang terlihat sekarang hanyalah tunas-tunas kecil yang tak lagi mampu menggambarkan megahnya hutan di masa lalu. Jika dahulu masyarakat mendengar nyanyian angin dari sela-sela daun pinus, kini yang terdengar justru suara ketukan besi, dentuman mesin, dan jeritan batang-batang kayu yang roboh seperti tubuh yang sedang dilukai.
Di warung kopi dan sudut tongkrongan anak muda, percakapan tentang pinus sering berubah menjadi pertanyaan yang getir. Mereka berkata, “Pinus itu bukan lagi milik kita.” Bahkan tanah tempat pohon-pohon itu tumbuh pun terasa asing bagi masyarakat sendiri. Untuk sekadar singgah atau memanfaatkan hasilnya, ada aturan-aturan yang terkadang membuat rakyat merasa seperti tamu di tanah leluhurnya.
Lalu muncul pertanyaan yang terus menggantung di kepala banyak orang:
Benarkah dahulu pohon-pohon pinus itu begitu besar?
Jika benar, ke mana semua pohon itu pergi?
Siapa yang memiliki hutan pinus hari ini?
Mengapa masyarakat yang hidup berdampingan dengannya justru merasa semakin jauh?
Dan yang paling menyakitkan, apakah uyem kini hanya tinggal simbol dalam lagu dan cerita, sementara ruhnya perlahan hilang dari Tanoh Gayo?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak cukup dijawab dengan nostalgia. Ia membutuhkan keberanian untuk melihat sejarah, kebijakan, dan cara manusia memperlakukan alamnya sendiri. Sebab ketika hutan hilang, yang lenyap bukan hanya pohon, tetapi juga ingatan, identitas, dan suara sebuah peradaban.
Kini, desur ni uyem mungkin masih ada. Namun suaranya tak lagi semerdu dulu. Ia terdengar seperti bisikan panjang dari alam yang sedang menunggu jawaban: siapa yang akan menjaga, siapa yang bertanggung jawab, dan siapa yang benar-benar peduli pada masa depan Tanoh Gayo.
Aktivis Sosial, Politik, budaya dan Lingkungan
Penulis : Sasikin Arisko
Editor : Ama Robby








