Aceh Tengah I Newsline.id — Setahun berlalu sejak bencana hidrometeorologi melanda Aceh, akses menuju Komplek Makam Raja Linge hingga kini belum juga pulih. Jembatan yang menjadi akses utama menuju situs bersejarah tersebut masih dalam kondisi terputus, membuat kawasan makam semakin sulit dijangkau masyarakat.
Kondisi tersebut kembali menjadi sorotan para penggiat budaya dan sejarah Gayo. Mereka mempertanyakan perhatian pemerintah terhadap salah satu situs yang memiliki nilai sejarah penting bagi masyarakat Gayo tersebut.
Penggiat Budaya dan Sejarah Gayo, Azman, saat melakukan pemantauan ke lokasi pada 2 Oktober 2026, mengungkapkan bahw kondisi akses menuju komplek makam masih sangat memprihatinkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Banjir bandang tahun lalu membuat badan sungai semakin melebar. Banyak timbunan material longsor dan gelondongan kayu berserakan di beberapa titik badan jalan,” ungkap Azman, Senin, (05/10/26).Putusnya jembatan tidak hanya menyulitkan masyarakat yang ingin berkunjung, tetapi juga menghambat pemantauan dan pemeliharaan situs cagar budaya tersebut.
Lebih mengkhawatirkan lagi, kondisi sejumlah bangunan pelindung makam atau cungkup mulai menunjukkan kerusakan.
Azman menyebutkan, tiang-tiang cungkup pada komplek utama Makam Raja Linge mulai terlihat lapuk dan miring atau dalam istilah masyarakat setempat disebut “murenyot” (Rusak dan sudah miring – Red).
“Tiang-tiang cungkup pada komplek utama Makam Raja Linge saat ini sudah mulai terlihat lapuk dan miring (murenyot). Sedangkan cungkup di komplek Makam Raja Jawan dan Banta Cut kondisinya lebih memprihatinkan lagi,” ujarnya.
Sementara kondisi cungkup di Komplek Makam Raja Jawan dan Banta Cut disebutnya lebih memprihatinkan.
Satu tahun tanpa akses yang memadai
Bagi masyarakat Gayo, Makam Raja Linge bukan sekadar lokasi pemakaman. Kawasan tersebut merupakan bagian penting dari jejak sejarah dan identitas budaya Gayo yang seharusnya mendapat perhatian dan perlindungan.
Karena itu, kondisi akses yang belum juga dipulihkan setelah satu tahun bencana menimbulkan pertanyaan: sampai kapan masyarakat harus menunggu?
Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan segera melakukan langkah konkret, mulai dari penanganan material longsor, pembangunan kembali jembatan, hingga rehabilitasi sarana dan prasarana di kawasan komplek makam.
Pemulihan akses dinilai mendesak agar masyarakat dapat kembali mengunjungi situs tersebut dan proses pemantauan serta pemeliharaan dapat dilakukan secara rutin.
Jangan sampai menunggu kerusakan semakin parah baru kemudian bertindak.
Masyarakat dan penggiat budaya Gayo berharap Makam Raja Linge tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga benar-benar dijaga keberadaannya sebagai warisan budaya untuk generasi mendatang.
“Kondisi terkini akses menuju lokasi makam sangat memprihatinkan, karena banjir bandang tahun lalu membuat badan sungai semakin melebar, banyak timbunan material longsor, dan gelondongan kayu berserakan di beberapa titik badan jalan dan ironisnya, sudah hampir satu tahun berlalu, namun pemerintah terkesan tutup mata akan hal ini, semoga di hari HUT TNI Ke 81 ini, Almarhum Reje Linge mendapa kado terindah dari Pemda Aceh Tengah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat” ujar Azman dengan raut muka sedih dan mata yang berkaca-kaca.
Penulis : Ama Robby
Editor : Ama Robby










